Tuesday, June 12, 2012

Di Sebuah Kontrakan Mahasiswa: Menyederhanakan Salah Satu Pemikiran Bu Ostrom

Dilema kerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi semua mungkin bisa ditunjukkan oleh cerita ini:  

This is a little story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody. There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it. Anybody could have done it, but Nobody did it. Somebody got angry about that because it was Everybody's job. Everybody thought that Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn't do it. It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anybody could have done

Dilema ini mungkin juga banyak dihadapi mahasiwa yang mengontrak rumah bersama. Seperti kita ketahuii, mahasiswa itu banyak yang "orang susah." Jadi untuk menghemat biaya seringkali mereka kontrak rumah bersama. Cara ini kadang lebih murah daripada kost. TV, langganan Indovision, bahkan koneksi internet bisa dibeli secara patungan. Tapi namanya juga mahasiswa, joroknya minta ampun. Menyadari hal ini, maka mereka sepakat bahwa kebersihan rumah ditanggung bersama. Mereka berjanji akan membersihkan rumah secara bergiliran.

Tapi setelah kesepakatan tanpa sangsi itu dibikin, tengah malamnya mereka mulai berpikir begini: memang benar, kalau saya bersih-bersih rumah maka saya bisa menikmati rumah yang bersih, yang lain juga menikmati hasil kerja saya. Tapi apa jaminannya yang lain bakal membersihkan rumah juga. Bagaimana kalau nanti akhirnya hanya saya yang membersihkan rumah. Mereka untung saya buntung. Maka lebih baik saya mangkir saja. Karena semua penghuni kontrakan itu berpikirnya seperti itu, maka proyek kebersihan rumah kontrakan itu ahirnya gagal total (1)

Ada anak SMA yang bertetangga dengan rumah kontrakan yang jorok itu tertarik untuk meneliti mengapa ada rumah kontrakan yang jorok, ada juga yang bersih. Dia meneliti ratusan rumah kontrakan mahasiwa dan menemukan ada rumah kontrakan yang joroknya minta ampun, jorok, setengah jorok, namun ada juga yang bersih kinclong.

Apa resepnya sehingga suatu rumah kontrakan bisa bersih kinclong? Pertama dia perhatikan karakter penghuni rumah kontrakan tersebut. Di kontrakan yang bersih kinclong itu tidak semua anggotanya rasional egois seperti di kontrakan yang jorok. Ada sih rasional egois tidak pedulian, tapi ada juga yang bawelnya minta ampun.(2) Heran juga perilaku orang bawel itu. Berkat kebawelannya, semua menikmati hasilnya, rumah yang bersih. Padahal dia keluar energi dan bakal tidak disukai sama teman-temannya penghuni kontrakan karena kebawelannya?

Ada juga karakter yang tidak langsung memutuskan "lebih baik saya mangkir saja," mereka punya prinsip "loe jual, gue beli". Ok ... saya hari ini membersihkann rumah, tapi kalau besok, yang lain mangkir, minggu berikutnya saya akan mangkir juga.(3)

Setelah meneliti karakter penghuni rumah kontrakan itu, anak SMA itu meneliti lebih lanjut. Ahirnya dia menemukan resep-resep agar rumah kontrakan bersih kinclong.(4)

  • Pertama, kalau penghuni rumah kontrakan itu ganti-ganti, atau sering membawa temannya menginap, menjadi tidak jelas lagi siapa penghuni rumah kontrakan tersebut. Karena penghuninya tidak jelas maka menjadi tidak jelas juga bentuk kerjasamanya. Di tempat kontrakan yang bersih, jelas penghuninya.
  • Kedua, kalau hanya sebagian yang untung, yang lain buntung, dan aturannya dinilai tidak adil, maka penghuni kontrakan mejadi malas mematuhi aturannya. Aturan yang adil itu ciri-ciri kontrakan yang bersih kinclong.
  • Ketiga, anak SMA itu menemukan bahwa di rumah kontrakan yang kinclong semua anggotanya berpartisipasi dalam membikin dan menyesuaikan aturan rumah kontrakan tersebut.
  • Keempat, pemilik rumah kontrakan punya kepentingan juga untuk merawat rumah miliknya. Seringkali mereka menunjuk salah satu penghuni sebagai kepala kebersihan. Tapi penelitian anak SMA itu menunjukkan bahwa kepala kebersihan yang dipilih sendiri oleh penghuni yang lebih dipatuhi.
  • Kelima, anak SMA juga meneliti, bagaimana penghuni bawel menghukum yang mangkir. Ternyata hukuman bertahap yang paling efektif. Pelanggaran pertama lebih ringan dari pelanggaran kedua dan seterusnya.
  • Keenam, mereka punya cara yang cepat dan efektif untuk menyelesaikan konflik antar penghuni rumah kontrakan itu.
  • Ketujuh, anak SMA itu juga meneliti hubungan antara pemilik rumah kontrakan dan penghuni rumah kontrakan. kalau penghuni rumah kontrakan merasa bahwa hanya dia yang berhak menentukan aturan perawatan rumah, maka penghuni rumah kontrakan tersebut menjadi malas untuk mengatur kebersihan rumah tersebut.
  • Kedelapan, ada juga rumah kontrakan yang bukan hanya satu rumah terpisah. Tapi lebih seperti kompleks rumah kontrakan. Anak SMA itu menemukan bahwa aturan yang bertingkat tepat untuk type rumah kontrakan seperti ini. Kelompok-kelompok skala kecil mengatur kebersihan skala kecil dibawah koodinasi kelompok yang lebih besar lagi.

Anak SMA tersebut menyerahkan hasil penelitiannya ke Lomba Penelitian Ilmiah Remaja. Dan dia mendapat hadiah pertama, bersama temannya yang meneliti tentang pilihan antara jajan, ngerantang, atau masak sendiri.

***

(1) dikenal sebagai zero contribution thesis Manchur Olson (1965)
(2) willing punisher
(3) conditional cooperator
(4) design prinsiples of long-surviving, self-organized resource regimes.

No comments:

Post a Comment